Setengah jam sebelum gw terlelap, harus terlelap..
Kadang gw suka lupa, buat menerima apa yang gw punya, buat mencintai apa yang gw miliki, lupa sob, manusiawi kan ya? Gw juga ngeh si, direntang waktu berlabel usia ini, gw berasa jalan ditempat, waktu berhenti di 5 tahun yang lalu. Lalu sekarang apa? Mo kemana? Bingung sob… gw ga ngerti. Semua numplek jadi satu, berasa semua ada di satu titik, dengan gw sebagai pusat dari pusarannya. Gw sebenernya selalu berusaha buat tetep berdiri tegak, really do, but shit happens, malam ini. No pain killer needed nor aspirin , gak juga nikotin yang sayup menipis, dan cairan kafein yang tersisa beberapa tetes saja, setengah jam ini saja, cukup.
Sejenak gw lepas topeng penuh tawa ini, gw tengah berada di pusaran waktu yang semakin lama kuat menyedot dan gapaian tangan gua hanya menggenggam udara, mimpi indah yang ga juga terwujud rupanya, belum, atau tidak, whateva, doesn’t make any difference. Bahkan untuk orang se-well planned gw pun, kali ini entah kenapa, mendadak otak susah diajak kerja sama, ngerti sih, ini soal tanggung jawab, ini soal menjadi lelaki, menjadi seorang yang harusnya bisa jauh lebih baik dari ini. Tapi gw capek sob, malem ini, gw pengen istirahat sejenak, meyakinkan diri sendiri.. that everything’s gonna be o-fuckin-kay.
Ga bisa ternyata, scene demi scene yang entah dari mana, memenuhi kepala gua, bajingan! Udah tiga batang nikotin sob, masi ga berasa, kembali menyulutnya lagi. Gw capek berjalan, kaki ini mulai pegal, peluh mengering, gw pengen bersandar. Iya, gw bakal melakukan semua, pundak gw bakal menyandangnya, gak surut kok gw, sadar kok gw. Menjadi laki laki itu berat sob, membanggakan memang, tapi berat! There’s a thin line between man and loser, right now, I’m steppin on it, crap! Selanjutnya mo gimana, mo jadi apa, entahlah sob, gw cape..
Hmm hujan turun rupanya, sudah waktunya terlelap, harus terlelap…
Bangsat!!!t!!
Monday, November 8, 2010
setengah jam..
Thursday, September 16, 2010
Sebelum kau terlelap . .
berhias tawa, canda dan cerita
berbagi hujan, menikmati saat datangnya mendung
dan sepi, yang sesekali sengaja kita biarkan menggantung
aku memilih untuk diam dan membiarkanmu berkata kata
seperti malam ini, aku membisu tanpa suara
menyenangkan sungguh, mendengar ceritamu
membayangkan lanjutan kisah hidupmu
bersamamu, waktu menjadi kehilangan makna
rajutan mimpi datang silih berganti , mengganti nyata
sadarkah kita, skenario apa yang sedang kita jalani?
taukah kamu, mau dibawa kemana semua ini??
atau kita hanya sekedar terpaku pada bayangan
terpana, memuja apa yang kita rasakan
hingga kita lupa, mungkin ini bukan milik kita
aku, kamu, sekedar bertemu di sebuah persimpangan
lalu menikmatinya,
mengingat kembali beberapa waktu lalu
hujan yang turun, ditemani riang suaramu
untaian kata, silih berganti kita ucapkan
seolah jemari kita erat saling tergenggam
apa yang ada sekarang,
apa yang kita rasakan,
mungkin hanya ada dalam lelap tidur kita
menenun benang mimpi dalam jalinan cerita
tapi tak mengapa sayang..
jika mimpi adalah apa yang kita punya . .
maka biarkan aku tertidur lebih lama . .
hingga pagi tiba. . .
And when I wake up you look so pretty sleeping next to me...
But there is not enough time, And there is no, no song I could sing..
And there is no combination of words I could say..
But I will still tell you one thing...
Tuesday, June 1, 2010
Balada Si Roy!


Saturday, April 24, 2010
. . . . . . . . . Need a Hug?

Friday, April 23, 2010
★★★ . . Kirisute Gomen! . . ★★★
mengenai waktu dimana semua tentang kamu
dan aku senang mendengarnya
mengenai hari harimu
dan tiada tentang pagi siang dan malam-ku
semua selalu tentang kehidupanmu
yang rutin menyapa setiap harinya
tapi itu tak mengapa,
karena aku sungguh menikmatinya
menikmatimu...
tentang sekelumit kisah hidupmu
tentang keraguan yang menimpamu
dan canda tawa yang sempat singgah
di beberapa malamku
dahulu...
alunan sapa dalam bait bait singkat
yang hanya terdiri dari satu kata,
sebuah nama...
dan tak kuasa kadang kumenahan tawa
ada apa dengan kita?
lantunan renyah tawa itu
bahkan tiada lagi kata terucap diantara kita
membisu, tenggelam dalam tanya
ah sudahlah, tak mengapa...
sungguh,
tak akan aku paksakan
seperti yang dahulu pernah kujanjikan
aku ada, karena kau menginginkannya
karena kisah ini tentang kamu, selalu
jadi,
mengenai cerita lalu...
apakah semua itu mimpi
adakah semua itu semu.....
karena mungkin
aku sedikit merindukannya...
Wednesday, April 21, 2010
hari [masih] hijau...
jadi, masih kuatkah engkau bunda?
- selamat hari kartini, selamat hari bumi -
dan dia sayup merintih.. dalam langkahnya tertatih..
akankah kita biarkan dia terkapar..?
baru kita tersadar...
Sunday, April 11, 2010
Cold Night Tonight...
Friday, April 9, 2010
Nightmare...


Saturday, January 23, 2010
Langitku Cerah Sebelah ...

Roda-roda kursi itu berputar di pinggiran halaman belakang rumah tua yang menghadap ke barat.
Wanita diusia senja itu tak hentinya tersenyum ketika Langit mengisahkan cerita lucu tentang almarhum bapak dulu. Seorang laki laki, keras, namun selalu hangat dan bijak dalam keluarga, ah Bapak.
"Ibu, gak bosan memandang matahari terbenam setiap hari?" tanya Langit seraya melangkah pelan mendorong kursi roda itu.
"Bapakmu pernah bertanya persis seperti itu"
"Lalu, ibu jawab apa?"
Wanita itu tersenyum.
"Sama sekali tidak, ada sedikit kenangan manis ketika matahari terbenam, kenangan semasa pacaran dulu, dan ibu senang mengingatnya"
Langit hanya tersenyum. Roda-roda kursi itu menaiki pinggiran tanah yang agak tinggi. Sinar matahari sore memancar disela sela dedaunan pohon jambu yang di tanam bapak.
"Bu..."
"Ya..."
"Aku ingin ke Jakarta Bu, kata bapak, banyak rejeki disana"
"Pendirianmu tak berubah juga nak, ibu tidak bisa mencegahmu kali ini kan?"
Wanita itu tersenyum lirih, menghela nafas, mengingat Jakarta pula lah yang telah merenggut suaminya tercinta.
"Sudah mulai gelap nak"
"Ya, Bu.."
Kursi roda bergerak pelan meninggalkan halaman belakang.
***
Duka masih sering singgah bila mengingat yang telah tiada. Tapi itu bisa sirna bila mengingat Ibu tak sedih meninggalkan semua miliknya. Bibirnya tersenyum dalam lelapnya. Mungkin tersenyum karena bapak sudah menantinya disana.
Langit masih bisa mengenangkan-nya sampai kini. Padahal peristiwa itu sudah enam tahun berlalu.
Semuanya berubah, semuanya membaik, Tidak ada lagi kesepian dirumah ini, ketiga anaknya masih sering mengunjungi rumah tua ini, cucu-cucunya, setiap tahunnya. Seperti hari ini, Langit dan kedua adiknya, keluarganya, menghabiskan waktu di rumah Ibu.
***
Sore itu Langit menjenguk kamar Ibu.
Kursi roda itu di sana, di bawah foto Keluarga. Langit menariknya ke luar, lalu mendorongnya ke halaman belakang. Perlahan dia melangkah. Mengenang masa masa manis menunggu matahari terbenam bersama Ibu.
"Ibu...," Langit berbisik sambil mendorong kursi roda di tepi halaman, dibawah pohon jambu. Dalam khayalannya Ibu duduk di kursi itu.
"Bapak tidak pernah mati, Bu. Lihat! Matahari masih terbenam disana."
Tak ada jawaban. Daun jambu pun diam saja. Tak ada angin yang meniupnya hingga dia berayun kecil. Kursi roda bergeser pelan.
"Hari ini aku merasa aneh Bu, berkumpul lagi disini bersama anak anak kami, cucu cucu Ibu..." Langit berkata lagi sambil mendorong kursi roda.
"Seperti ketika ibu mengingat bapak, Aku selalu merasa Ibu tak pernah meninggalkan kami, ... Lucu ya Bu?"
Ibu tak menjawab. Karena Ibu memang tak ada di kursi roda.
"Maaasss.... Makanan sudah siap!" seru kedua adiknya dari pintu ruang makan di sisi pekarangan.
Langit membungkuk dan berbisik ke kursi roda,
"Ibu, mari kita makan malam...."
Roda-roda kursi berputar pelan.
***
[terinspirasi sebuah novel karya bung smas]
Sunday, January 17, 2010
Sssstttt . . . .

dan kamu?





