Wednesday, November 24, 2010

if it makes you happy...


menyenangkan sekali melihat kalian tersenyum padaku
ah ternyata, kalian hanya tersenyum pada topengku

melegakan sekali melihat kalian menatap lekat wajahku
ah ternyata yang kalian tatap itu topengku

mengagumkan sekali mengetahui kalian begitu menghargaiku
ah ternyata, kalian hanya menghargai topengku

karena tidak ada lagi aku yang urakan
juga kelakuanku yang ancur ancuran
apalagi kata kataku yang tidak menyenangkan
buah pikiranku yang kalian anggap mengganggu

gak juga teriakan lantang yang biasa mengguncang
dasi yang terlantar, kemeja yang kubiarkan keluar
tatapan mata nanar dan kepalan tangan mengancam
kusimpan rapi kali ini


karena jika itu yang kalian mau
dan jika itu yang mampu menyelamatkanku

mungkin akan kupakai topeng ini


s
e
l
a
m
a
n
y
a
.
.
.




Monday, November 8, 2010

setengah jam..

Setengah jam sebelum gw terlelap, harus terlelap..

Kadang gw suka lupa, buat menerima apa yang gw punya, buat mencintai apa yang gw miliki, lupa sob, manusiawi kan ya? Gw juga ngeh si, direntang waktu berlabel usia ini, gw berasa jalan ditempat, waktu berhenti di 5 tahun yang lalu. Lalu sekarang apa? Mo kemana? Bingung sob… gw ga ngerti. Semua numplek jadi satu, berasa semua ada di satu titik, dengan gw sebagai pusat dari pusarannya. Gw sebenernya selalu berusaha buat tetep berdiri tegak, really do, but shit happens, malam ini. No pain killer needed nor aspirin , gak juga nikotin yang sayup menipis, dan cairan kafein yang tersisa beberapa tetes saja, setengah jam ini saja, cukup.

Sejenak gw lepas topeng penuh tawa ini, gw tengah berada di pusaran waktu yang semakin lama kuat menyedot dan gapaian tangan gua hanya menggenggam udara, mimpi indah yang ga juga terwujud rupanya, belum, atau tidak, whateva, doesn’t make any difference. Bahkan untuk orang se-well planned gw pun, kali ini entah kenapa, mendadak otak susah diajak kerja sama, ngerti sih, ini soal tanggung jawab, ini soal menjadi lelaki, menjadi seorang yang harusnya bisa jauh lebih baik dari ini. Tapi gw capek sob, malem ini, gw pengen istirahat sejenak, meyakinkan diri sendiri.. that everything’s gonna be o-fuckin-kay.

Ga bisa ternyata, scene demi scene yang entah dari mana, memenuhi kepala gua, bajingan! Udah tiga batang nikotin sob, masi ga berasa, kembali menyulutnya lagi. Gw capek berjalan, kaki ini mulai pegal, peluh mengering, gw pengen bersandar. Iya, gw bakal melakukan semua, pundak gw bakal menyandangnya, gak surut kok gw, sadar kok gw. Menjadi laki laki itu berat sob, membanggakan memang, tapi berat! There’s a thin line between man and loser, right now, I’m steppin on it, crap! Selanjutnya mo gimana, mo jadi apa, entahlah sob, gw cape..

Hmm hujan turun rupanya, sudah waktunya terlelap, harus terlelap…





Bangsat!!!t!!


Wednesday, November 3, 2010

DIAM!!!




Saya memilih diam, singkat saja, capek berkoar koar, ya saya diam. Kadang saya berkoar juga, sampai pada titik dimana saya bertanya pada diri saya sendiri? Buat apa? Mau sampe kapan? Manfaatnya apa?

Apakah atas nama ego, dengan balutan emosi dan kata kata berapi api, atau bahkan sindiran penuh arti, apakah kebenaran itu mutlak dan layak diejawantahkan dalam bentuk rangkaian kata, yang seringnya tak terangkai dengan elegan, tidak kah saya capek? Tentu saja saya capek, maka sekali lagi saya memilih diam.

Apakah saya mengeluh? Ataukah saya merajuk? Terserah saja apapun intepretasi kalian, toh diam saya lebih menenangkan, dibandingkan lisan saya yang kadang sulit dijaga dan kerapkali memuntahkan caci maki lewat kata, sesuatu yang selalu saya sesali pada akhirnya.

Saya memang bukan makhluk yang mudah buat melampiaskan rasa kesal saya dalam kata kata, baik lewat karya sastra, narasi cerita, atau caci maki menggila, selama ini, pelampiasan kesal saya kalo gak di musik, ya olah raga, dan setelah sekian lama saya merenung, mungkin diam kadang ada baiknya, paling enggak buat saya.

“If you have nothing good to say, then say nothing. . . ” mungkin kurang lebih, seperti itulah yang sering muncul di benak saya, yah daripada saya banyak bicara mengumbar kejelekan , lalu emosi menuntun diksi yang semakin lama setajam bilah besi, yang biasanya diakhiri dengan rasa antipati, kesal sendiri, disertai naiknya tensi. . . . nunggu collapse doang dehh, lalu kalo begini, lebih baik “Diam” kan?

Mungkin banyak yang berpendapat, diam gak menyelesaikan masalah, mungkin itu benar, tapi saya juga capek kalo harus menyakiti hati saya sendiri, dengan berkoar, dibalas argument dan tidak diakhiri dengan solusi yang logis, yang biasanya berujung.. seolah olah.. sekedar eksis. Maka dari itu saya memilih untuk diam.

Diamku memang tidak untuk menyelesaikan masalah, masalahku, masalah mu, masalah kita, masalah kalian, tapi dengan diam, saya hanya berharap otak kerdil ini diberi sedikit waktu, tak lama, sejenak saja, sampai saya mampu mencerna dan mencoba menyikapi semua dengan lebih bijak sana, lebih dewasa, walaupun saya bisa saja bertindak sebaliknya, karena mencaci itu semudah megeluh, berpotensi menyakiti dan tidak jarang berakhir tanpa solusi, lalu apa gunanya? . . *terdiam*

aaahhh . . .
Dan lagi, dari segi usia, seharusnya kita sudah sama sama dewasa,
betul kan?




[ Ketika lisanku terkunci, duduk disampingku dekat, genggam jemariku erat , coba tatap mataku, mungkin bisa kau lihat, tiada caci maki disana, karena dalam diam … hatiku masih kerap menyenandungkan hangatnya pelukan… dalam bait bait kesunyian . . .]